
Penulis: Fitraya Ramadhanny
Perjuangan merawat demokrasi dan menuntut keadilan untuk para korban pelanggaran HAM di Indonesia sungguh bukan jalan yang mudah. Ini adalah jalan terjal dan sunyi namun terus dijalani, salah satunya adalah Aksi Kamisan. Aksi Kamisan yang ada di depan Istana Merdeka, Jakarta sudah digelar sejak 18 Januari 2007. Aksi pada Kamis, 11 Juni 2026 yang saya hadiri, merupakan aksi ke-911 kalinya. Sudah hampir 20 tahun dan Aksi Kamisan tetap konsisten digelar di depan Istana Merdeka.
Saya pertama kali tahu Aksi Kamisan adalah tidak lama sejak aksi pertama digelar tahun 2007 silam. Saat itu saya masih seorang wartawan junior di sebuah media massa online nasional. Para wartawan muda saat itu, apalagi yang masih liputan floating di lapangan, biasanya pernah kebagian meliput kegiatan Aksi Kamisan. Ketika hadir kembali ke Aksi Kamisan pekan lalu setelah bertahun-tahun tidak hadir di sana, saya datang sebagai peserta aksi, bukan sebagai wartawan yang meliput.
Ada nostalgia dan hormat kepada para penggagas dan pelaksana Aksi Kamisan yang telah sampai sejauh ini. Aksi Kamisan sore itu berlangsung seperti biasa dengan aksi diam menghadap Istana Kepresidenan bersama payung hitam, spanduk dan poster-poster bertema HAM. Sosok-sosok tua yang hadir adalah perwakilan korban pelanggaran HAM dari peristiwa 1965, Talangsari, Tragedi Semanggi 1998 seperti Ibu Sumarsih dkk, peristiwa Rumpin dll. Namun, lebih banyak lagi wajah-wajah muda belia yang hadir di sana. Selain dari Kontras, hadir para perwakilan LSM lain dan para perwakilan tahanan politik muda dari Aksi 17/8 2025.
Panitia menunjuk saya untuk berorasi dalam sesi refleksi mewakili para mahasiswa UPN Veteran Jakarta lainnya. Saya memang menyimpan catatan untuk orasi, sebuah catatan yang isinya harapan saya, dan harapan yang kemudian menemukan cahayanya ketika melihat banyaknya anak-anak muda seumuran anak saya sendiri hadir di sana.

Saya membuka orasi dengan membahas kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bagi kami, korupsi di bidang pendidikan merugikan negara dua kali. Yang dirampok adalah uang negara dan hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Korupsi menjadi sama jahatnya dengan pelanggaran HAM. Korupsi dan pelanggaran HAM adalah musuh kemanusiaan.
Kepada para peserta aksi muda, saya menyampaikan dalam orasi itu pentingnya menguasai ruang digital untuk mendukung perjuangan pro demokrasi di ruang fisik. Hari ini juga kita menghadapi ancaman lain terhadap demokrasi.
Aktivis diteror, suara kritis dibungkam dan ruang sipil untuk menyampaikan ekspresi politik semakin dipersempit. Jika mulut dibungkam, kita melawan melalui algoritma. Perwakilan peserta aksi dari UPNVJ memakai T-Shirt dengan QR code menuju ke Instagram resmi Aksi Kamisan. Baju ini adalah simbol dan membawa pesan bahwa jika ruang fisik dipersempit, maka ruang digital harus direbut. Algoritma menjadi alat perlawanan dan Aksi Kamisan adalah pengingat bahwa rakyat belum lupa. Rezim boleh menguasai apapun. tetapi rezim tidak boleh menguasai ingatan.
Setelah saya memberikan orasi, giliran dosen ilmu politik UPNVJ, Sri Lestari Wahyuningroem, MA., Ph.D. memberikan kuliah jalanan. Perempuan yang akrab dipanggil Mbak Lewe atau Mbak Ayu ini menegaskan negara tidak memiliki akuntabilitas dan belum bisa menghadirkan keadilan untuk para korban pelanggaran HAM.
Untuk itu, cara-cara perjuangan menuntut keadilan juga mesti terus berkembang. Dia menawarkan humor sebagai bentuk penyampaian ekspresi politik. Meme, satire dan lelucon adalah beberapa cara untuk mengekspos kekonyolan pemerintah. Humor menjadi salah satu cara untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Setelah hampir 20 tahun Aksi Kamisan, saya melihat Ibu Sumarsih dan para korban pelanggaran HAM semakin tua. Namun saya juga melihat banyak anak-anak muda hadir di dalam Aksi Kamisan. Seperti harapan saya dalam catatan orasi, perjuangan para korban HAM juga memerlukan regenerasi. Melihat banyaknya generasi muda yang hadir sore itu, saya optimistis Aksi Kamisan akan selalu menemukan darah-darah muda.
Wajah-wajah di Aksi Kamisan akan berganti, rezim berganti dan bahkan presiden berganti. Tetapi perjuangan para korban pelanggaran HAM tidak boleh berhenti. Karena sesungguhnya, mereka bukan cuma melawan ketidakadilan, tapi mereka juga melawan lupa. Sehingga, Aksi Kamisan adalah perjuangan mematri memori. Untuk memastikan sejarah tidak dikubur, untuk memastikan korban tidak dihapus. Sampai negara mengaku. Sampai negara meminta maaf. Sampai negara memberikan keadilan untuk semua.

